Mengenal Diffit AI: "Game Changer" bagi Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Era Kurikulum Merdeka

 

 

 

Dilema Klasik di Ruang Kelas

Bapak/Ibu Guru, mari kita bicara jujur. Salah satu tuntutan terbesar—sekaligus terberat—dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Kita diminta untuk melayani kebutuhan siswa yang beragam: ada yang kemampuan bacanya setara anak kuliahan, ada pula yang masih mengeja, padahal mereka duduk di kelas yang sama.

Secara teori, konsep Teaching at the Right Level (TaRL) sangat mulia. Namun dalam praktik, menyusun 3 sampai 4 versi materi ajar (LKPD) yang berbeda setiap malam adalah resep sempurna untuk burnout (kelelahan mental).

Di sinilah teknologi hadir bukan untuk menggantikan guru, melainkan menyelamatkan waktu kita. Perkenalkan: Diffit AI.

 Apa Itu Diffit AI?

Banyak guru mengira Diffit hanyalah chatbot biasa seperti ChatGPT. Anggapan ini kurang tepat.

Diffit AI adalah mesin pengolah sumber belajar yang dirancang spesifik untuk diferensiasi konten. Jika ChatGPT adalah asisten tanya-jawab, maka Diffit adalah "Tim Kurikulum Pribadi" Anda.

Kekuatan utama tools ini terletak pada kemampuannya mengambil satu sumber materi—baik itu teks, artikel berita, atau bahkan video YouTube—dan secara otomatis menyesuaikan tingkat kesulitan bahasanya (reading level) agar pas dengan kemampuan siswa.

Tutorial Penggunaan Diffif AI 

 Mengapa Diffit Relevan untuk Guru Indonesia?

Di tengah gempuran aplikasi AI, mengapa Diffit layak mendapatkan perhatian khusus dari para pendidik di tanah air?

1.     Solusi Nyata untuk Kesenjangan Literasi

Kita tidak bisa menutup mata bahwa kemampuan literasi siswa di satu kelas bisa sangat timpang. Diffit memecahkan masalah ini dengan fitur "Adapt Reading Level".

Bayangkan Anda mengajarkan tentang "Sejarah Kemerdekaan". Dengan Diffit, Anda bisa memberikan teks versi "Grade 11" untuk siswa yang mahir, dan teks versi "Grade 5" untuk siswa yang butuh bimbingan, tanpa mengubah topik bahasannya. Semua belajar sejarah yang sama, namun dengan "kendaraan" bahasa yang berbeda.

2.     Mengubah Video Menjadi Teks Ajar (Transkripsi Cerdas)

Seringkali kita menemukan video YouTube yang bagus, tapi siswa sulit menangkap isinya hanya dengan menonton. Diffit mampu "menonton" video tersebut, mengambil intisarinya, dan mengubahnya menjadi bahan bacaan terstruktur lengkap dengan poin-poin kunci dan kosa kata penting. Ini adalah fitur yang sangat powerful untuk mendukung literasi digital.

3.     Integrasi Mulus dengan Ekosistem Google

Bagi sekolah pengguna akun belajar.id, Diffit adalah jodoh yang pas. Alat ini tidak hanya menghasilkan teks, tetapi bisa langsung mengekspor materi menjadi:

  • Google Slides: Untuk presentasi visual.
  • Google Forms: Untuk kuis otomatis.
  • PDF Printable: Untuk lembar kerja (LKPD) luring.

4.     Dukungan Bahasa Indonesia yang Mumpuni

Salah satu kelemahan banyak tools AI luar negeri adalah hasil terjemahan yang kaku. Namun, algoritma Diffit menunjukkan kemampuan yang impresif dalam memproses dan menghasilkan materi dalam Bahasa Indonesia yang luwes dan kontekstual.

 Diffit dan Roh Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Penggunaan Diffit adalah manifestasi nyata dari filosofi tersebut.

Ketika guru menggunakan Diffit, guru sedang melakukan advokasi terhadap hak belajar siswa. Guru tidak lagi memaksakan "satu ukuran untuk semua" (one size fits all). Sebaliknya, guru memberikan "tangga" yang tepat bagi setiap siswa untuk memanjat tembok pengetahuan. Siswa yang lambat tidak merasa tertinggal, dan siswa yang cepat tidak merasa bosan.

 Apakah Mengurangi Peran Guru?

Tentu tidak. AI hanyalah alat bantu. Keputusan pedagogis, sentuhan empati, dan interaksi tatap muka tetap ada di tangan guru.

Diffit hanya mengambil alih pekerjaan administratif yang melelahkan (mencari materi, merangkum, membuat soal), sehingga guru memiliki lebih banyak energi dan waktu untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan AI: membangun hubungan emosional dengan siswa dan membimbing mereka secara personal.

Cara Mudah Membuat MateriAjar Menggunakan Diffit

 Kesimpulan

Di era digital ini, produktivitas guru bukan dinilai dari seberapa keras ia bekerja, tapi seberapa cerdas ia memanfaatkan sumber daya. Diffit AI menawarkan jalan pintas yang etis dan efektif untuk mewujudkan kelas yang inklusif dan berdiferensiasi.

Jika Bapak/Ibu merasa lelah menyiapkan materi yang itu-itu saja, mungkin ini saatnya melirik Diffit sebagai rekan kerja baru di laptop Anda

Post a Comment

0 Comments