Jika Anda bertanya kepada saya di
tahun 90-an, apakah saya akan berdiri di depan kelas dan mengajar, jawabannya
pasti tidak. Saya lahir di sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur dan sama sekali
tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang guru, apalagi Guru IT. Masuk
kuliah pun saya memilih fakultas non-kependidikan.
Namun, hidup punya cara kerjanya
sendiri. Ini adalah cerita perjalanan saya. Sebuah transformasi dari seorang
pecinta sci-fi yang hobi ngoprek komputer, menjadi seorang pendidik yang
mencintai murid-muridnya.
Ketertarikan saya pada teknologi
dimulai sejak kecil, dipicu oleh film-film fiksi ilmiah seperti Star Wars
dan Airwolf. Tapi, momen kuncinya terjadi pada tahun 1994 saat saya
lulus SMA. Orang tua membelikan PC pertama saya: sebuah Pentium 100 dengan RAM
8 MB dan Printer Epson LX300. Bagi generasi sekarang, spesifikasi itu mungkin
terdengar purba, tapi bagi saya, itu adalah gerbang dunia baru.
Kuliah di Malang membuat saya makin
"gila" komputer. Karena PC sering rusak, saya terpaksa belajar
memperbaikinya sendiri. Awalnya tanya-tanya ke tukang servis, lama-lama saya
bongkar sendiri. Tahun 1998, saat internet mulai masuk, warnet menjadi rumah
kedua saya. Di sanalah ilmu saya terasah—bukan dari bangku kuliah pendidikan,
tapi dari pengalaman nyata memperbaiki kerusakan, mengetik, hingga maintenance
data.
Setelah lulus, saya sempat membuka
usaha rental dan servis komputer di kampung halaman. Hingga pada tahun 2007,
beberapa teman mengajak saya melakukan hal gila: mendirikan sekolah SMK Swasta.
Saya didapuk menangani jurusan Teknik
Komputer dan Jaringan (TKJ). Alasannya sederhana: faktor kedekatan teman
dan karena saat itu orang dengan kompetensi TKJ sangat langka. Tanpa ba-bi-bu,
saya langsung dijadikan Ketua Jurusan (Kajur).
Bayangkan, saya tidak punya skill
mengajar, buta soal manajemen sekolah, tidak tahu apa itu RPP atau Silabus,
tapi harus memimpin jurusan. Jantung saya berdebar tidak karuan saat pertama
kali masuk kelas menghadapi 18 siswa angkatan pertama.
Apa yang saya lakukan? Saya jujur. Di
hari pertama, saya hanya mengajak ngobrol dan memberikan semangat: "Di
sini kita belajar bersama-sama, tetap semangat, jangan minder, semua pasti bisa
jika mau belajar".
Laboratorium "Rongsokan"
yang Melahirkan Kreativitas
Fasilitas kami di awal berdiri
sangat terbatas. Komputer masih Pentium 3 dan 4 dengan monitor tabung, belum
ada jaringan, dan internet hanya ada di komputer guru. Lebih parah lagi, lab
komputer dipakai bergantian untuk praktik bongkar pasang dan mengetik. Alhasil,
komputer sering rusak.
Tapi, di situlah keajaibannya. Kerusakan
komputer justru menjadi "guru" terbaik bagi siswa. Mereka jadi
terbiasa memperbaiki masalah. Di mana ada kesulitan, di situ muncul kreativitas.
Saya bahkan menerapkan sistem multilevel: siswa yang sudah paham
(pionir) wajib mengajari teman-temannya. Generasi awal ini adalah yang paling
kreatif; mereka membantu saya memasang seluruh jaringan sekolah.
Cita-cita saya waktu itu ambisius:
menjadikan sekolah kami sebagai pusat IT se-kecamatan. Kami membentuk Unit
Pelayanan dan Jasa (UPJ). Instansi perkantoran mulai mempercayakan perbaikan
komputer kepada kami.
Saya sering mengirim
"asisten-asisten" saya (siswa yang kompeten) untuk memperbaiki
komputer klien di luar sekolah. Uang jasanya? 100% untuk mereka. Syaratnya
satu: mereka harus pakai seragam praktik agar sekolah kami dikenal masyarakat.
Ini adalah metode belajar berbasis proyek yang sebenarnya, jauh sebelum istilah
itu populer.
Mungkin saya dikenal sebagai guru
yang "keras". Saya tidak peduli nilai ujian. Bagi saya, kejujuran dan
attitude adalah segalanya. Saat ujian, suasana kelas saya hening karena
saya anti-menyontek. Asal siswa jujur, rajin, dan berusaha sendiri, saya
pastikan nilai mereka aman.
Ada satu cerita lucu yang agak
miris. Gaji pertama saya sebagai guru adalah Rp 90.000,-. Saya sempat
heran dan mangkel, "Kok tidak dikalikan 4 minggu?" Ternyata
sistem penggajian guru dihitung per jam pelajaran (JP) dalam sebulan, bukan
mingguan. Mau marah, tapi akhirnya cuma bisa tertawa.
Niat awal saya sebenarnya hanya
membantu mendirikan sekolah dan membuktikan bahwa orang non-pendidikan bisa
mengantarkan siswa lulus. Namun, saya "terjebak" dalam cinta dan
kebanggaan. Melihat angkatan pertama—yang awalnya 18 siswa menyusut jadi 13
siswa—akhirnya lulus, ada rasa haru yang luar biasa. Mereka bukan sekadar
murid, tapi teman seperjuangan "menghidupkan" sekolah.
Setelah 7 tahun dan meluluskan
berbagai angkatan, saya memutuskan mundur untuk kembali berkumpul dengan
keluarga di luar kota. Tapi, kenangan pahit manis membangun jurusan TKJ dari
nol akan selalu menjadi bagian terbaik dalam hidup saya.
0 Comments