Selamat Tinggal Kapur Tulis, Selamat Datang "TV Raksasa": Menakar Nasib IFP di Kelas Kita


 

Sudah dengar kabar burung yang kini makin nyaring bunyinya? Tahun 2026 ini sepertinya bakal jadi tahun "ganti kulit" buat ruang kelas kita. Kalau dulu kita akrab sama debu kapur yang bikin batuk, atau spidol yang tintanya sering habis di momen krusial, sekarang kita disuruh bersiap menyambut tamu agung bernama Interactive Flat Panel alias IFP.

Bahasa gampangnya: papan tulis digital. Bahasa tongkrongannya: tablet Android segede gaban (75 inci, Bos!) yang ditempel di dinding.

Sebagai guru jurusan TKJ yang hobi ngulik barang elektronik, jujur saya excited sekaligus deg-degan. Di satu sisi, visi Pak Prabowo untuk meratakan kualitas pendidikan lewat "jendela digital" ini patut kita acungi jempol. Bayangkan, materi dari guru-guru terbaik di Jakarta bisa langsung streaming ke sekolah di pelosok Papua lewat layar bening 4K. Keren? Banget. Apalagi program digitalisasi pembelajaran ini sudah resmi diluncurkan dan mulai berjalan di ribuan sekolah.

Tapi, sebagai konsultan IT yang sering turun ke lapangan, saya juga mencium aroma "drama" infrastruktur yang bakal kita hadapi. Mari kita bedah pelan-pelan, sambil menyeruput kopi.

Barang Mewah, Bos!

Jangan anggap remeh, IFP ini bukan TV biasa. Harganya? Dari data yang sempat saya intip di pasaran, harga satu unit IFP 75 inci lengkap dengan PC modulnya bisa bikin geleng-geleng kepala, tembus puluhan hingga ratusan juta rupiah. Spesifikasinya juga "dewa": layar 4K, touchscreen 20 titik, dual OS (Android buat yang ringan-ringan, Windows buat kerja berat).

Ini barang capital expenditure (CapEx) serius. Kalau sampai rusak karena kita enggak tahu cara pakainya, itu namanya pemborosan anggaran level dewa.

Realita Lapangan: Antara Harapan dan "Jepret"

Nah, ini bagian serunya. Alat canggih butuh "makanan" yang bergizi. Makanannya ada dua: Listrik dan Internet.

Pertama, soal listrik. Satu unit IFP 75 inci itu, kalau lagi kerja keras, konsumsi dayanya lumayan besar. Kalau sekolah Bapak/Ibu pasang 4 unit saja, itu sudah ribuan Watt. Belum AC ruang kepsek, belum pompa air, belum komputer lab.

Bagi sekolah di desa yang meterannya masih pas-pasan, siap-siap saja langganan "jepret" alias MCB turun. Tanpa upgrade daya atau pasang stabilizer, komponen OPS di dalam IFP itu rawan jebol kena tegangan naik-turun. Solusinya? Katanya sih pemerintah menyiapkan panel surya untuk daerah tertentu, tapi ya kita tahu lah, baterai panel surya itu butuh perawatan ekstra.

Kedua, internet. IFP tanpa internet itu ibarat smartphone tanpa kuota; cuma jadi cermin mahal. Pemerintah memang sudah bergerak dengan mengirimkan internet satelit gratis untuk ribuan sekolah di daerah 3T. Kita doakan saja lancar jaya, biar fitur streaming dari "Studio Pusat" itu nggak buffering melulu.

Guru: Operator atau Penonton?

Tantangan terberatnya sebenarnya bukan di alat, tapi di manusianya—kita sendiri.

Jujur saja, masih banyak rekan guru senior yang lihat layar 75 inci itu bukannya semangat, malah keder. Takut salah pencet, takut rusak, takut ganti rugi. Akhirnya? Balik lagi ke papan tulis kapur, dan IFP-nya cuma dijadikan "pajangan mahal" atau sekadar buat nonton YouTube pas jam kosong.

Padahal, fitur-fiturnya gila-gilaan. Bisa split screen, bisa corat-coret materi PDF langsung di layar, bahkan bisa integrasi AI.

Saran Saya

Buat Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan tim sarpras, saran saya simpel:

  1. Cek Kelistrikan Dulu: Sebelum barang datang, pastikan daya cukup dan grounding listrik aman. Jangan sampai barang datang, listrik padam.

  2. Keamanan Fisik: Ini barang mahal, Pak/Bu. Pastikan teralis jendela kuat. Jangan sampai jadi incaran maling.

  3. Pelatihan yang "Nendang": Jangan cuma pelatihan cara nyalain tombol power. Ajak guru-guru explore fitur mengajarnya. Buat rekan guru TKJ, ayo bantu rekan-rekan senior. Jangan pelit ilmu.

Tahun 2026 adalah momentum. Jangan sampai transformasi digital ini cuma jadi proyek pengadaan barang semata, tapi gagal jadi proyek pengadaan ilmu.

Salam digital

Post a Comment

0 Comments