Pendahuluan
Pernahkah
Anda merasa bahwa siswa di kelas hanya sekadar "numpang lewat" saat
belajar? Hafal hari ini, lupa esok hari? Tantangan inilah yang coba dijawab
oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikdasmen).
Menteri
Abdul Mu'ti baru-baru ini kembali menekankan pentingnya pendekatan Deep
Learning (Pembelajaran Mendalam) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia. Bukan sekadar metode baru, pendekatan ini diharapkan menjadi kunci
untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga
memiliki daya nalar kritis yang kuat.
Lantas,
apa sebenarnya Deep Learning itu dan bagaimana penerapannya di dalam kelas?
Apa Itu Deep Learning dalam Pendidikan?
Dalam
seminar bertajuk "Implementasi Deep Learning dalam Rangka Mewujudkan
Pendidikan Bermutu untuk Semua" di UHAMKA, Mendikdasmen menegaskan
bahwa Deep Learning berbeda dengan sekadar menghafal materi demi ujian.
Deep
Learning adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman
mendalam. Tujuannya adalah agar siswa mampu:
1.
Memahami konsep secara utuh (tidak
setengah-setengah).
2.
Mengaitkan materi pelajaran dengan
disiplin ilmu lain.
3.
Mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam
kehidupan nyata.
Jadi,
ukurannya bukan lagi seberapa banyak soal pilihan ganda yang bisa dijawab
benar, melainkan seberapa paham siswa terhadap esensi ilmu yang dipelajarinya.
3
Pilar Utama: Mindful, Meaningful, & Joyful
Menteri
Abdul Mu'ti merumuskan esensi Deep Learning ke dalam tiga kata kunci yang mudah
diingat, atau sering disebut prinsip "Ful-Ful":
1.
Mindful (Berkesadaran)
Proses belajar harus melibatkan kesadaran penuh. Guru menyadari perbedaan unik
setiap siswa, dan siswa pun sadar mengapa mereka perlu belajar. Ini
menciptakan keterlibatan aktif, bukan pasif.
2.
Meaningful (Bermakna) Pelajaran
tidak boleh hanya berhenti di buku teks. Materi harus relevan dan punya makna
bagi kehidupan siswa. Ketika siswa tahu manfaat nyata dari apa yang dipelajari,
motivasi mereka akan tumbuh secara alami.
3.
Joyful (Menyenangkan)
Suasana belajar yang kaku dan penuh tekanan justru menghambat otak menyerap
informasi. Deep Learning mendorong suasana kelas yang menyenangkan, di mana
siswa antusias untuk mengeksplorasi hal baru.
Mengapa Pendekatan Ini Efektif?
Secara
ilmiah, Deep Learning sejalan dengan teori psikologi kognitif. Proses belajar
manusia melibatkan tiga tahap krusial:
· Attention
(Perhatian): Siswa harus tertarik dulu agar mau
menyimak.
· Deep
Level Processing (Pengolahan Mendalam): Informasi diolah,
dikritisi, dan dihubungkan dengan pengalaman sebelumnya.
· Memory
(Ingatan): Karena diproses secara mendalam, materi akan
tersimpan lebih lama dalam ingatan jangka panjang.
Dengan
pendekatan ini, kompetensi High Order Thinking Skills (HOTS) seperti
pemecahan masalah (problem solving), kolaborasi, dan berpikir kritis akan
terbentuk dengan sendirinya.
Peran Guru dalam Deep Learning
Perubahan
metode tentu menuntut perubahan peran guru. Dalam Deep Learning, guru tidak
lagi sekadar "penceramah" atau pemberi informasi. Guru
bertransformasi menjadi fasilitator yang:
- Mengarahkan siswa untuk menemukan
makna.
- Memancing rasa ingin tahu dengan
pertanyaan pemantik.
- Menghubungkan teori di kelas dengan
fenomena di dunia nyata.
Kesimpulan
Deep
Learning bukanlah kurikulum pengganti, melainkan sebuah "jiwa" baru
dalam cara kita mendidik. Dengan menerapkan prinsip Mindful, Meaningful,
dan Joyful, kita tidak hanya mencetak siswa yang pintar menghafal,
tetapi siswa yang benar-benar paham dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sumber : Kemendikdasmen

0 Comments