Ketika Ijazah Lulus 100% Tapi Kompetensi Nol Besar

Sumber gambar : AI Generated

Kita sering didengungkan dengan jargon manis: “Indonesia Emas 2045”. Katanya, kita akan menikmati bonus demografi di mana usia produktif mendominasi. Tapi, mari kita (para guru) bertanya pada hati nurani: apakah kita sedang mencetak “Generasi Emas”, atau justru kita sedang merakit “Generasi Cemas”?

Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Fenomena katrol nilai yang kita bahas di artikel-artikel sebelumnya bukan sekadar masalah administrasi guru. Ini adalah sabotase sistematis terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa ini.

Dampaknya bukan lagi teori, tapi sudah meledak menjadi fakta lapangan yang memalukan.

Tragedi Siswa SMP Buta Huruf

Bapak/Ibu mungkin masih ingat berita yang menggemparkan dari Bali. Dinas Pendidikan setempat menemukan fakta bahwa ratusan siswa SMP di Buleleng, bahkan ada yang sudah mau lulus, ternyata tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dengan lancar.

Pertanyaannya sederhana: Kok bisa masuk SMP?

Jawabannya adalah katrol nilai di SD. Karena kebijakan (baik tertulis maupun tak tertulis) yang melarang tinggal kelas, ditambah rasa kasihan guru, siswa yang belum tuntas di kelas 1 diluluskan ke kelas 2. Begitu seterusnya hingga mereka tamat SD membawa ijazah, tapi dengan otak kosong.

Saat masuk SMP, mereka duduk seperti patung. Guru SMP bingung, mau mengajar kurikulum merdeka yang kompleks, tapi siswanya mengeja “B-U-D-I” saja tergata-gata. Akhirnya? Dikatrol lagi biar lulus SMP. Masalah ini terus digulirkan seperti bola salju hingga ke jenjang SMK/SMA.

Rapor “Glowing”, PISA “Jeblok”

Kalau kita lihat data makro, ada kesenjangan yang bikin geleng-geleng kepala. Rata-rata nilai rapor siswa Indonesia itu bagus-bagus. Mayoritas di atas KKM/KKTP, warnanya biru atau hijau semua. Orang tua senang, sekolah tenang.

Tapi, begitu diuji dengan standar internasional yang objektif, topeng itu terbuka. Skor PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menunjukkan literasi membaca Indonesia anjlok ke skor 359. Matematika dan Sains juga setali tiga uang.

Ini membuktikan bahwa nilai rapor kita mengalami inflasi. Nilai 85 di rapor hari ini, mungkin setara dengan nilai 50 di zaman dulu. Kita memberikan siswa rasa aman palsu (false sense of security). Mereka merasa pintar karena nilainya bagus, padahal kompetensinya rapuh.

Jebakan Akreditasi dan Citra Sekolah

Kenapa sekolah membiarkan ini? Karena sekolah juga tersandera. Sistem Akreditasi Sekolah sering kali melihat tren nilai siswa. Sekolah yang grafik nilai rata-ratanya naik, dianggap berhasil. Sekolah yang jujur menahan siswa tinggal kelas, justru dianggap gagal membina.

Belum lagi persaingan masuk PTN via SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Sekolah berlomba-lomba mengatrol nilai agar siswanya banyak yang tembus PTN. Jumlah siswa yang diterima PTN kemudian dijadikan baliho besar di depan gerbang sekolah sebagai bahan jualan (marketing) saat PPDB tahun depan.

Lingkaran setan ini memaksa guru untuk terus berbohong demi menjaga nama baik institusi.

Jeritan Dunia Industri (Dampak bagi SMK)

Sebagai guru SMK, kitalah yang kena getah paling akhir. Saat lulusan hasil katrol nilai ini masuk dunia kerja, industri menjerit.

Banyak HRD mengeluhkan lulusan sekarang (Gen Z) memiliki mental “instan” dan daya juang rendah. Mereka terbiasa mendapatkan reward (nilai bagus) tanpa effort (usaha) saat sekolah.

Ketika di dunia kerja mereka dituntut target riil—bukan nilai kasihan—mereka kaget (culture shock). Mereka tidak punya kemampuan problem solving karena selama sekolah masalah mereka selalu “diselesaikan” oleh gurunya lewat jalur remidial fiktif.

Kesimpulan: Hentikan Warisan Kebohongan

Bapak/Ibu rekan sejawat, katrol nilai adalah “penyakit komorbid” pendidikan kita. Sudah saatnya kita, di ruang-ruang kelas kita sendiri, mulai berani jujur.

  • Definisikan ulang “Tinggal Kelas”: Itu bukan aib, tapi waktu tambahan untuk belajar.
  • Hargai Proses, Bukan Hasil Akhir: Jangan beri nilai karena dia “anak baik”, berilah nilai karena dia “anak bisa”.

Jika kita terus memberi nilai palsu, kita tidak sedang menolong masa depan siswa. Kita sedang menghancurkannya pelan-pelan dengan senyuman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *