Wacana
kembalinya Ujian Nasional (UN) bukan lagi sekadar rumor warung kopi. Memasuki
awal tahun 2026, sinyal dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikdasmen) semakin kuat, namun dengan twist yang menarik. Bagi
kita yang berkecimpung di dunia pendidikan—baik sebagai guru di kelas maupun
teknisi di lab komputer—kabar ini membawa angin segar sekaligus kekhawatiran
lama.
Apakah
kita akan kembali ke era "belajar demi nilai"? Atau ini adalah
evolusi sistem evaluasi yang memang kita butuhkan? Mari kita bedah faktanya
berdasarkan data dan rekam jejak kebijakan sejak akhir 2024.
1.
Update Terkini: Bukan Sekadar "UN
Lama" yang Bangkit Kubur
Menteri Pendidikan Dasar
dan Menengah, Abdul Mu'ti, secara konsisten telah menyusun peta jalan ini sejak
setahun terakhir. Berbeda dengan ketakutan banyak siswa, format yang disiapkan
ternyata tidak "seseram" UN zaman dulu.
Dalam laporannya yang
dilansir dari Kompas.com, Mendikdasmen menegaskan bahwa sistem baru ini
akan berbeda dari tahun sebelumnya. Fokusnya bukan hanya menghukum siswa dengan
nilai mati, tetapi memotret kemampuan nalar yang lebih komprehensif.
Bahkan, ada kemungkinan
besar istilah "Ujian" akan dihapus. Seperti yang sempat dikutip oleh Tempo.co, Mendikdasmen membocorkan bahwa tidak
ada lagi kata 'ujian', melainkan diganti dengan istilah lain untuk mengurangi
beban mental, namun tetap berfungsi sebagai standar evaluasi nasional.
Poin Penting: Pemerintah
menyadari bahwa Asesmen Nasional (AN) baik untuk memotret kualitas sekolah
(raport pendidikan), namun lemah dalam memotret kemampuan individu siswa
secara detail. Celah inilah yang ingin ditambal di 2026.
2.
Polemik Panas: Mengapa Opini Guru
Terbelah?
Sebagai guru, kita
merasakan langsung dilema ini di ruang guru.
Kubu Pro (Mendukung
Evaluasi Standar)
Banyak rekan sejawat
merasa daya juang (fighting spirit) siswa menurun drastis tanpa adanya
standar kelulusan yang jelas. Orang tua pun membutuhkan barometer yang objektif
untuk mengukur kemampuan anak mereka dibanding siswa dari sekolah lain.
Kubu Kontra (Khawatir
Sejarah Berulang)
Di sisi lain, trauma akan
budaya drilling soal masih menghantui. Perhimpunan Pendidikan dan Guru
(P2G) menjadi salah satu pihak yang paling vokal. Dalam rilisnya di Metro TV News, P2G mengingatkan agar tujuan dan skemanya
mesti jelas, jangan sampai siswa kembali dijadikan korban eksperimen kebijakan.
Selain itu, analisis dari Validnews.id menyoroti dampak mental pada
siswa yang berpotensi meningkat jika ujian ini kembali menjadi penentu nasib
mutlak (high-stakes testing).
3.
Sorotan Khusus: Tantangan Infrastruktur IT
(Perspektif Guru Komputer)
Sebagai praktisi IT dan
Konsultan Sekolah, inilah bagian yang paling krusial. Jika evaluasi nasional
2026 ini digelar berbasis komputer secara massal (bukan sampling seperti ANBK),
kita menghadapi tantangan teknis raksasa.
DPR RI pun sudah
mewanti-wanti hal ini. Komisi X DPR meminta ujian berbasis digital diterapkan
dengan hati-hati. Infrastruktur di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)
harus diaudit total sebelum kebijakan ini diketok palu.
Ketua Komisi X, Hetifah
Sjaifudian, melalui laman JDIH DPR RI, juga menekankan pentingnya optimalisasi
digitalisasi pembelajaran agar tidak terjadi ketimpangan hasil ujian hanya
karena faktor gagap teknologi atau internet lemot.
Tantangan Teknis di
Lapangan:
1.
Kesiapan Server & Bandwidth: Beban
trafik akan naik 10x lipat dibanding ANBK jika seluruh siswa ujian serentak.
2.
Keamanan CBT: Sistem Computer Based
Test harus kebal dari kebocoran soal digital yang penyebarannya hitungan
detik.
3.
Kompetensi Operator: Operator sekolah
butuh upgrade skill untuk troubleshooting level lanjut.
4. Prediksi:
Apa yang Harus Dilakukan Sekolah?
Sambil menunggu juknis
resmi, berikut langkah strategis bagi sekolah:
- Audit Fasilitas Lab: Mulai cek
kesehatan PC/Laptop sekolah. Jangan tunggu anggaran turun baru bergerak.
- Simulasi Mandiri: Guru TIK perlu
membiasakan siswa dengan antarmuka ujian digital yang beragam, bukan hanya
scrolling TikTok.
- Fokus Literasi: Jangan kembali ke
metode hafal soal. Ajarkan siswa logika penyelesaian masalah, karena
kemungkinan besar format soalnya adaptif (seperti tes masuk PTN).
Kembalinya
evaluasi standar di 2026 adalah keniscayaan. Tugas kita bukan menolak
perubahan, tapi memastikan sekolah dan siswa kita memiliki "senjata"
yang lengkap untuk menghadapinya. Baik itu kesiapan mental, maupun kesiapan
infrastruktur digital.

0 Comments