Sebagai seorang guru TKJ dan konsultan IT yang sering blusukan ngurusin jaringan bisnis mikro, ada dua keluhan "abadi" yang selalu mampir ke telinga saya. Kalimatnya hampir selalu sama:
"Pak Deddi, ini saya udah beli paket internet kenceng, sinyal di HP penuh, tapi kok buat YouTube-an muter terus ya?"
"Pak, gimana caranya biar WiFi di ruang tamu bisa nyampe ke kamar belakang atau rumah saudara di seberang jalan?"
Dua masalah ini terdengar sepele, tapi solusinya seringkali bikin dompet "kaum mendang-mending" meronta kalau tidak dihitung dengan cermat. Mari kita bedah satu per satu dengan bahasa manusia, bukan bahasa robot.
Misteri Sinyal Penuh Tapi Lemot (High Signal, Low Throughput)
Banyak yang mengira kalau bar sinyal di HP penuh (full bar), berarti internet pasti ngebut. Padahal, di dunia jaringan, Kekuatan Sinyal (Signal Strength) ≠ Kualitas Koneksi (Quality).
Kenapa bisa begitu?
Interferensi Frekuensi: Bayangkan Anda ngobrol di pasar yang ramai. Suara Anda keras (sinyal kuat), tapi lawan bicara tidak paham karena berisik (noise). WiFi tetangga Anda yang menggunakan channel frekuensi yang sama adalah "suara pasar" itu. Ini sering terjadi di frekuensi 2.4GHz yang sudah sangat padat.
Antrean Data (CSMA/CA): WiFi itu kerjanya bergantian, tidak seperti kabel. Jika ada banyak perangkat terkoneksi ke satu router murahan, router akan kewalahan mengatur antrean siapa yang boleh kirim data duluan. Akibatnya? Latency naik, internet terasa lemot.
Limitasi Perangkat: Sinyal penuh tidak berguna jika router Anda CPU-nya load 100% atau bandwidth dari ISP memang sudah habis dipakai download file gajah.
Menurut standar teknis dari
Misi Penyelamatan Sinyal: Jauh vs Dekat
Nah, masuk ke masalah kedua: Sinyal nggak nyampe. Skenarionya biasanya ada tiga, dan solusinya beda-beda. Jangan sampai salah obat!
Skenario 1: Beda Rumah, Jarak Jauh (LDR) Anda mau menyambungkan internet ke rumah yang jaraknya ratusan meter atau kilometer.
Solusi: Jangan pakai kabel LAN, sinyalnya bakal hilang di jalan (atenuasi). Gunakan Radio Wireless Point-to-Point (P2P). Syarat mutlaknya adalah Line of Sight (LOS)—antar alat harus saling melihat tanpa halangan pohon atau tembok.
Sultan Mode: Kalau ada dana lebih dan medannya banyak halangan, tarik kabel Fiber Optic. Ini solusi paling paten, anti-interferensi, dan throughput-nya paling jujur.
Skenario 2: Beda Rumah, Jarak Dekat (Tetangga Sebelah)
Solusi: Tarik kabel LAN Outdoor. Ingat, standar
membatasi panjang kabel UTP maksimal 100 meter. Lebih dari itu, datanya bakal "masuk angin".TIA/EIA-568
Skenario 3: Satu Rumah, Beda Ruangan/Lantai Ini yang paling sering kejadian. Router di ruang tamu, kamar di lantai 2 blank spot.
Solusi Hemat: Pakai Repeater/Extender. Tapi ingat, repeater itu memotong bandwidth jadi setengah (half-duplex). Jangan harap kecepatan di repeater sama dengan di router utama.
Solusi Cerdas: Pakai teknologi Mesh WiFi. Sistem ini lebih pintar daripada repeater karena perpindahan antar titik (roaming) lebih mulus tanpa putus.
Solusi Terbaik: Tarik kabel LAN dari router utama ke kamar, lalu pasang Access Point tambahan. Ribet pasang kabelnya, tapi performanya paling stabil.
Rumus "Ono Rego Ono Rupo" dalam Jaringan
Sebagai penutup, saya selalu pegang prinsip ini saat memberi konsultasi:
"Semakin jauh koneksi ditarik dan semakin banyak halangan (tembok beton, kaca film, pohon), maka biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan kecepatan akan semakin mahal."
Jika Anda memaksakan nembak sinyal menembus tiga tembok beton cuma pakai alat seharga seratus ribuan, ya jangan marah kalau throughput (kecepatan asli) yang didapat tinggal sisa-sisa.
Jadi, hitung matang-matang. Kadang, lebih efisien dan murah (secara mental dan dompet) untuk pasang baru (daftar ISP lagi) di lokasi kedua, daripada memaksakan mencabangkan koneksi dengan investasi alat yang mahal tapi hasilnya ndat-ndut.
Salam Digital

0 Comments