Advertisement

Responsive Advertisement

Kondisi Literasi IT Guru 2025-2026: Sudahkah Melek Teknologi atau Sekadar Bisa Mengoperasikan?

kondisi literasi it guru 2025-2026 melek teknologi ai

Secara spesifik, belum ada satu data "sensus" tunggal berskala nasional yang dirilis pada awal 2026 yang menyebutkan angka pasti (misalnya: "X% guru sudah melek IT"). Biasanya, data statistik besar seperti ini merujuk pada baseline data tahun 2023/2024 yang kemudian dianalisis kembali dalam publikasi tahun 2025-2026.

Namun, jika kita melihat tren penelitian akademik yang terbit pada periode 2025 hingga awal 2026, fokus penelitian sudah bergeser. Tidak lagi sekadar meneliti "bisa nyalain komputer atau tidak", tapi lebih ke "Literasi AI (Kecerdasan Buatan)" dan "Kompetensi Digital Pedagogis".

Berikut adalah rangkuman temuan dari berbagai jurnal dan laporan pendidikan terbaru (2025-2026) mengenai kondisi literasi IT guru di Indonesia:

1. Data & Statistik Kunci (Konteks 2025)

Meskipun angka 2026 belum final, para peneliti di tahun 2025 banyak menggunakan acuan data berikut sebagai landasan masalah:

  • Indeks Literasi Digital Masih "Sedang": Banyak penelitian 2025 masih merujuk pada Indeks Literasi Digital Nasional (Kominfo) yang berada di angka 3,54 dari skala 5,00. Ini artinya, secara umum kemampuan digital guru berada di level "menengah"—tidak gaptek, tapi belum mahir.
  • Kesenjangan Infrastruktur: Laporan yang dikutip dalam kajian tahun 2025 menyebutkan bahwa sekitar 34% Sekolah Dasar (SD) di Indonesia masih memiliki keterbatasan akses internet dan perangkat. Ini menjadi penghambat utama, sehingga guru yang sebenarnya "bisa" IT, jadi "tidak bisa" mempraktikkannya karena alatnya tidak ada.
  • Target vs Realita: Ada kesenjangan antara target nasional (80% literasi digital) dengan realita di lapangan yang baru mencapai kisaran 62% (dalam konteks umum pendidikan).

2. Tren Temuan Penelitian Terbaru (2025-2026)

Berdasarkan jurnal-jurnal pendidikan (seperti Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi, JIIP, dan prosiding konferensi SHEs) yang terbit di 2025, berikut adalah benang merah kondisinya:

  • Kesenjangan Generasi (Senior vs Junior): Penelitian oleh Tamsiyati & Kurnia (2025) mengonfirmasi bahwa guru muda memiliki tingkat "kesanggupan" (kapabilitas) digital yang jauh lebih tinggi dibanding guru senior. Guru senior cenderung mengalami hambatan adaptasi, bukan karena tidak mau, tapi karena faktor kebiasaan dan kecepatan belajar teknologi baru.
  • Jago Teknis, Tapi Bingung Penerapan (Pedagogical Gap): Banyak guru ditemukan sudah jago memakai alat dasar (Zoom, WhatsApp, Canva dasar). Namun, penelitian menyoroti kelemahan pada integrasi pedagogis. Artinya: Guru bisa membuat slide PowerPoint, tapi belum tentu bisa merancang pembelajaran berbasis digital yang interaktif. Seringkali, tugas digital bagi siswa hanya berakhir menjadi aktivitas "copy-paste" tanpa pendampingan yang mendalam.
  • Tantangan Baru: Era AI (Chat GPT & Gemini): Riset tahun 2025 mulai menyoroti fenomena baru: Guru yang belum paham AI vs Siswa yang sudah sangat jago AI. Penelitian mulai merekomendasikan pelatihan yang spesifik pada Etika Digital dan penggunaan AI agar guru tidak "dikibuli" siswa atau justru takut pada teknologi tersebut.

3. Program Pemerintah (Kemendikdasmen 2025)

Dalam siaran pers dan laporan kegiatan tahun 2025, pemerintah (melalui kementerian terkait) mulai menggencarkan program seperti:

Kesimpulan

Jika Anda mencari angka mutlak untuk tahun 2026, belum ada angka persen yang tunggal. Namun, kesimpulan dari berbagai riset 2025 adalah:

Mayoritas guru Indonesia sudah melewati fase "Gaptek Dasar" (sudah bisa operasional), namun masih berjuang di fase "Mahir Pedagogis" (mengajar efektif dengan IT) dan "Adaptasi AI".

Post a Comment

0 Comments